
Fenomena Out of Body Experience (OBE) atau pengalaman keluar dari tubuh telah lama menjadi objek kajian lintas disiplin, mulai dari neurosains, psikologi kesadaran, hingga studi metafisika modern. Dalam pendekatan Metafisika Hipnosis, OBE dipahami bukan sebagai fenomena supranatural, melainkan sebagai pergeseran pusat atensi kesadaran yang dapat dipetakan secara ilmiah.
OBE umumnya terjadi pada kondisi hipnosis mendalam, meditasi tingkat lanjut, pengalaman mendekati kematian, serta situasi ekstrem yang memicu perubahan integrasi sensorik otak.

Salah satu penelitian paling berpengaruh diterbitkan dalam jurnal Nature oleh Olaf Blanke dan timnya. Studi tersebut menunjukkan bahwa stimulasi pada area temporoparietal junction (TPJ) dapat memicu pengalaman OBE secara konsisten.
Dalam publikasinya, Blanke menuliskan:
“Out-of-body experiences are caused by a failure to integrate multisensory bodily information, leading to a disembodied self-location.”
(Nature, 2002)
Temuan ini memperkuat bahwa OBE bukan halusinasi acak, melainkan hasil dari mekanisme saraf spesifik yang dapat direplikasi.
Namun menariknya, mekanisme neurologis tersebut tidak otomatis meniadakan realitas pengalaman subjektif, melainkan hanya menjelaskan pintu masuknya.
Dalam jurnal Journal of Nervous and Mental Disease, peneliti kesadaran Charles Tart menegaskan bahwa OBE menantang asumsi bahwa kesadaran sepenuhnya dihasilkan oleh otak.

Ia menulis:
“The evidence suggests that consciousness may, under certain conditions, function independently of the physical body.”
(J. Nervous and Mental Disease)
Dalam metafisika hipnosis, pernyataan ini sejalan dengan konsep bahwa otak berperan sebagai interface, bukan sumber kesadaran itu sendiri.
Penelitian EEG yang dipublikasikan dalam International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis menunjukkan bahwa subjek hipnosis mendalam mengalami dominasi gelombang theta dan delta, pola yang sama dengan kondisi OBE spontan.
Peneliti menyimpulkan:
“Deep hypnotic trance produces altered self-referential processing similar to dissociative and out-of-body states.”
Artinya, OBE dapat dipahami sebagai kondisi kesadaran yang dapat diinduksi, bukan kejadian acak atau patologis.
Metafisika hipnosis memandang OBE sebagai:
- Disosiasi yang terstruktur dan stabil
- Pergeseran pusat pengamatan, bukan perpindahan fisik
- Aktivasi kesadaran non-lokal yang tetap disertai meta-awareness
Dalam jurnal Frontiers in Human Neuroscience, konsep self-location dan self-identification dijelaskan sebagai konstruksi dinamis, bukan entitas tetap.
“The sense of self is not fixed to the body, but dynamically constructed by neural processes.”
Pandangan ini memperkuat posisi metafisika hipnosis bahwa identitas diri bersifat fleksibel, tergantung fokus kesadaran.
Sains modern mampu menjelaskan bagaimana OBE terjadi, tetapi belum sepenuhnya menjawab apa itu kesadaran. Di sinilah metafisika hipnosis mengambil peran—bukan menolak neurosains, melainkan meluaskannya.
OBE tidak lagi dipandang sebagai fenomena mistis, tetapi sebagai laboratorium alami kesadaran, tempat sains dan metafisika bertemu.
Dengan dukungan jurnal internasional dan riset neurosains mutakhir, fenomena OBE menunjukkan bahwa kesadaran manusia memiliki fleksibilitas posisi dan referensi diri. Dalam perspektif metafisika hipnosis, OBE adalah bukti bahwa kesadaran tidak sepenuhnya terikat tubuh, melainkan dapat berpindah fokus tanpa kehilangan kejernihan.
