
Fenomena kerasukan masih menjadi salah satu peristiwa yang memicu rasa takut sekaligus penasaran di tengah masyarakat. Dalam banyak budaya, kerasukan kerap dimaknai sebagai masuknya makhluk halus ke dalam tubuh seseorang. Narasi ini begitu kuat, diwariskan turun-temurun melalui kepercayaan, tradisi, hingga tontonan populer.
Namun dalam kajian Metafisika Hipnotis, fenomena kerasukan tidak semata dipahami sebagai “dirasuki makhluk”, melainkan sebagai peristiwa perubahan kesadaran atau altered state of consciousness yang dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, emosional, energetik, serta sistem keyakinan individu.
Pendekatan ini tidak serta-merta menafikan dimensi spiritual, tetapi mencoba menjelaskan mekanisme yang terjadi di dalam diri manusia saat peristiwa kerasukan berlangsung.
Dalam perspektif hipnotis, kerasukan memiliki kemiripan dengan kondisi trance yang sangat dalam. Trance sendiri adalah keadaan ketika fokus kesadaran menyempit, pikiran logis melemah, dan sugesti menjadi lebih mudah diterima.
Kondisi ini sebenarnya alami dan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat seseorang:
- Sangat larut dalam emosi
- Terhanyut dalam doa atau meditasi
- Mengalami shock atau ketakutan ekstrem
- Terlalu lelah secara fisik dan mental
Bedanya, pada fenomena kerasukan, trance muncul secara spontan dan intens, sehingga kontrol diri tampak “hilang”.
Tubuh bisa bergerak di luar kebiasaan, suara berubah, bahkan setelah sadar individu tidak mengingat apa yang terjadi. Dalam hipnotis, kondisi ini setara dengan somnambulistic state—fase trance terdalam.
Metafisika hipnotis memandang bahwa saat kerasukan terjadi, pikiran sadar mundur, sementara bawah sadar mengambil alih kendali.
Bawah sadar menyimpan banyak konten batin, seperti:
- Trauma yang ditekan
- Emosi terpendam
- Ketakutan kolektif
- Simbol budaya & religius
- Imajinasi spiritual
Ketika kontrol sadar melemah, isi bawah sadar ini dapat muncul dalam bentuk “identitas lain”.
Inilah sebabnya manifestasi kerasukan sering berbeda-beda:
- Ada yang mengaku menjadi jin
- Ada yang berbicara seperti leluhur
- Ada yang menampilkan sosok religius tertentu
Bentuknya mengikuti database keyakinan batin masing-masing individu.
Secara psikologis, kerasukan juga dapat dijelaskan melalui konsep disosiasi, yaitu terpisahnya sebagian kesadaran dari identitas utama.
Disosiasi terjadi ketika seseorang:
- Mengalami tekanan berat
- Menekan emosi terlalu lama
- Tidak memiliki ruang ekspresi
Bagian diri yang tertekan ini kemudian muncul sebagai “tokoh lain”.
Dalam terapi hipnotis, fenomena ini dikenal sebagai:
- Ego state
- Sub-personality
- Parts of self
Artinya, sosok yang muncul saat kerasukan tidak selalu entitas luar, melainkan bagian diri yang mencari saluran ekspresi.
Metafisika hipnotis juga memasukkan dimensi energi dalam memahami kerasukan.
Manusia dipandang memiliki medan energi atau biofield yang dipengaruhi oleh kondisi mental dan emosional.
Saat seseorang mengalami:
- Ketakutan ekstrem
- Kesedihan mendalam
- Kelelahan berat
- Histeria massal
Medan energinya melemah dan tidak stabil.
Dalam kondisi ini, individu menjadi sangat sugestif dan mudah “terpengaruh frekuensi” lingkungan.
Fenomena yang kemudian muncul ditafsirkan sebagai masuknya entitas, padahal bisa jadi merupakan resonansi energi yang tidak terkendali.
Kasus kerasukan massal di sekolah, pabrik, atau asrama sering menjadi bukti kuat peran sugesti.
Dalam metafisika hipnotis, ini disebut collective trance atau trance kolektif.
Mekanismenya sederhana namun kuat:
- Satu orang mengalami trance
- Lingkungan panik
- Ketakutan menyebar
- Otak limbik meniru respons
- Terjadi reaksi berantai
Faktor pemicunya antara lain:
- Tekanan lingkungan
- Kelelahan fisik
- Atmosfer sugestif
- Keyakinan spiritual yang sama
Fenomena ini mirip hipnosis massal, hanya saja terjadi spontan tanpa induksi formal.
Menariknya, berbagai ritual seperti doa, ruqyah, mantra, atau air suci sering efektif menghentikan kerasukan.
Dalam kacamata metafisika hipnotis, efektivitas ini dijelaskan melalui:
- Sugesti otoritas
- Simbol penyembuhan
- Kepercayaan kolektif
- Efek placebo spiritual
Saat individu percaya bahwa ritual tersebut kuat, bawah sadarnya menerima perintah untuk “melepaskan kondisi”.
Terjadi katarsis emosi, pelepasan sugesti, lalu kesadaran kembali terintegrasi.
Metafisika hipnotis tidak memaksakan satu kebenaran tunggal. Fenomena kerasukan dipahami dalam spektrum:
- Psikologis → disosiasi, trauma, sugesti
- Energetik → ketidakseimbangan biofield
- Spiritual → kemungkinan interaksi non-fisik
Namun dalam praktik terapi, fokus utamanya bukan membuktikan entitas, melainkan:
Mengembalikan kendali kesadaran individu.
Fenomena kerasukan, dalam pandangan metafisika hipnotis, merupakan peristiwa kompleks yang melibatkan perubahan kesadaran, dominasi bawah sadar, tekanan emosi, pengaruh energi batin, serta sistem keyakinan seseorang.
Memahaminya secara lebih luas membuat penanganan tidak lagi dilandasi kepanikan atau kekerasan, melainkan ketenangan, sugesti yang tepat, serta pendekatan kesadaran yang terarah.
Dengan perspektif ini, kerasukan tidak hanya dilihat sebagai gangguan spiritual, tetapi juga sebagai bahasa batin yang muncul ketika pikiran, emosi, dan energi berada di titik paling rentan.
