
Fenomena melihat hantu dalam pendekatan Metafisika Hipnosis tidak lagi dipahami sebagai peristiwa pasif, di mana manusia hanya menjadi objek ketakutan semata. Sebaliknya, fenomena tersebut dipandang sebagai proses ko-kreasi, yakni hasil kerja sama antara energi eksternal dengan kesiapan internal pengamat.
Pandangan ini disampaikan oleh Master Zaenal, yang menjelaskan bahwa penampakan tidak terjadi secara sepihak dari luar diri manusia, melainkan melalui mekanisme sinkronisasi yang kompleks antara medan energi dan kondisi psikis individu.
“Penampakan terjadi karena adanya sinkronisasi antara frekuensi energi luar dengan kesiapan pikiran bawah sadar subjek,” ujarnya.
Menurut Master Zaenal, tanpa keterlibatan aktif pikiran—baik dalam kondisi sadar maupun tidak sadar—fenomena tersebut sejatinya tidak akan tertangkap oleh indera manusia. Artinya, pengalaman melihat penampakan bukan semata-mata soal keberadaan entitas metafisik, melainkan hasil interaksi antara kesadaran, persepsi, dan resonansi energi.
Ia menambahkan, pikiran manusia berperan sebagai “resonator” yang mampu menangkap atau mengabaikan stimulus metafisik tertentu, tergantung pada kondisi emosional, keyakinan, serta tingkat kepekaan bawah sadar seseorang. Dalam kondisi tertentu, seperti saat lelah, takut, atau berada pada gelombang kesadaran yang lebih reseptif, peluang terjadinya sinkronisasi tersebut dinilai semakin besar.
Pendekatan Metafisika Hipnosis ini menempatkan manusia sebagai partisipan aktif dalam setiap pengalaman metafisika yang terjadi, bukan sebagai korban pasif dari fenomena yang tidak dipahami. Cara pandang ini sekaligus membuka ruang pemahaman baru yang lebih rasional dan berbasis kesadaran terhadap fenomena metafisik yang selama ini kerap disalahartikan sebagai gangguan semata.
Dengan perspektif tersebut, fenomena penampakan tidak lagi semata-mata diposisikan sebagai hal mistis yang menakutkan, melainkan sebagai cerminan hubungan kompleks antara energi, pikiran, dan kesadaran manusia.
