
Air merupakan elemen paling vital dalam kehidupan manusia. Sekitar 60–70% tubuh manusia terdiri dari air, menjadikannya bukan sekadar pelarut biologis, tetapi juga medium utama berbagai proses fisiologis. Dalam perkembangan studi interdisipliner, muncul konsep menarik mengenai kemampuan air dalam menyimpan energi dan informasi, yang mengundang perdebatan antara komunitas ilmiah dan praktisi kesehatan holistik.
Secara kimia, air (H₂O) memiliki struktur molekul polar dengan kemampuan membentuk ikatan hidrogen. Struktur ini bersifat dinamis dan sangat responsif terhadap perubahan suhu, medan elektromagnetik, suara, tekanan, dan lingkungan kimia.
Beberapa peneliti dari bidang fisika molekular dan biologi air menjelaskan bahwa struktur mikro air dapat mengalami reorganisasi dalam kluster-kluster molekul (water clusters). Inilah yang kemudian melahirkan hipotesis bahwa air tidak hanya bersifat pasif, tetapi dapat merespons stimulus eksternal dan menyimpan “jejak” informasi tertentu, meskipun masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi.

Salah satu tokoh yang mempopulerkan konsep memori air adalah Dr. Masaru Emoto, peneliti asal Jepang yang melakukan eksperimen fotografi kristal air. Ia menemukan bahwa air yang dipapar kata-kata positif, doa, dan musik harmonis menunjukkan struktur kristal yang lebih indah dan simetris saat dibekukan, dibandingkan air yang menerima kata-kata negatif atau suara tidak harmonis.
Masaru Emoto menyatakan:
“Water is a blueprint of our reality. When we change the way we treat water, we change the way we treat ourselves.”
(Air adalah cetak biru dari realitas kita. Ketika kita mengubah cara memperlakukan air, kita mengubah cara kita memperlakukan diri kita sendiri.)
Karyanya memberikan kontribusi besar dalam membuka diskusi global tentang hubungan antara air, kesadaran, dan lingkungan energi.
Dalam beberapa riset terkait struktur air dan bioelektromagnetik, ditemukan bahwa air dapat memengaruhi konduksi sinyal listrik dalam tubuh, stabilitas membran sel, dan transportasi ion seperti natrium, kalium, serta magnesium.
Hal ini mendukung gagasan bahwa air bisa menjadi media penghantar dan penyimpan energi, khususnya ketika dipengaruhi oleh medan energi, gelombang suara, atau frekuensi tertentu. Inilah yang mendasari berkembangnya teknologi “air berenergi” di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Selain faktor energi, salah satu parameter terpenting dari air adalah tingkat keasaman (pH). Tubuh manusia secara alami mempertahankan pH darah pada kisaran sangat stabil, yaitu sekitar 7,35 – 7,45.
Air dengan pH netral (sekitar 7,0–7,5) dianggap paling ideal karena:
- Tidak membebani kerja ginjal dan sistem buffer tubuh.
- Mendukung stabilitas cairan tubuh tanpa mengganggu keseimbangan elektrolit.
- Selaras dengan pH biologis darah dan cairan tubuh.
- Minim risiko mengganggu proses pencernaan alami yang membutuhkan asam lambung.
- Lebih aman untuk konsumsi jangka panjang dibanding air dengan pH terlalu tinggi (alkalis ekstrem).
Beberapa ahli fisiologi menyatakan bahwa pH tubuh dikontrol ketat oleh sistem pernapasan dan ginjal, bukan semata-mata oleh air minum. Oleh karena itu, air dengan pH netral dipandang sebagai pilihan yang paling logis, stabil, dan fisiologis bagi kebutuhan harian manusia.
Fenomena air yang dapat menyimpan energi membuka perspektif baru tentang hubungan manusia dengan alam. Sains modern mulai menyentuh wilayah yang dulu dianggap spiritual: tentang kesadaran, getaran, dan medan energi.
Walaupun masih banyak ruang untuk penelitian lanjutan, satu hal yang semakin disepakati adalah:
air berkualitas baik, struktur stabil, dan pH netral tetap menjadi fondasi utama bagi kesehatan tubuh manusia.
Di zaman ketika manusia semakin sadar akan pentingnya kesehatan holistik, air bukan hanya sekadar cairan, tetapi medium kehidupan yang menghubungkan tubuh, pikiran, dan lingkungan.
