
Sidoarjo- Banyak orang menyalahkan cuaca, ekonomi, bahkan nasib.
Padahal realitas yang kita alami sering kali merupakan hasil dari sistem otomatis dalam diri kita sendiri.
Konsep ini sejalan dengan gagasan dalam buku Psycho-Cybernetics karya Maxwell Maltz. Ia menyebut adanya servo mechanism—mekanisme mental yang bekerja seperti peluru kendali, selalu bergerak menuju target yang kita tetapkan.
Rumusnya sederhana:
Realitas = Ekspektasi + Persepsi + Valuasi
Seseorang menjelang musim pancaroba sudah berkata dalam hati:
Ekspektasi: “Pasti nanti sakit.”
Saat terkena angin sedikit saja:
Persepsi: “Udara ini merusak tubuhku.”
Lalu ia menyimpulkan:
Valuasi: “Tubuhku memang lemah.”
Hasilnya? Ia benar-benar sakit.
Ini bukan kebetulan, melainkan self-fulfilling prophecy. Otak dan tubuh mengikuti skenario yang terus diulang.
Gunakan teknik sederhana ala psychocybernetic:
- Berdiri di depan cermin.
- Panggil nama Anda sebagai orang kedua.
- Ubah programnya.
Contoh:
“Budi, kamu kuat. Kamu sehat. Tubuhmu cerdas dan cepat pulih.”
Berbicara sebagai “kamu” membantu memotong kritik internal dan menanamkan citra diri baru.
Anda bukan korban keadaan.
Anda adalah pemrogram sistem internal Anda sendiri.
Ubah ekspektasi.
Jernihkan persepsi.
Naikkan valuasi.
Realitas pun ikut berubah.
