
Sidoarjo – Tubuh manusia ternyata memiliki mekanisme “bersih-bersih” alami yang dalam dunia sains disebut autophagy. Istilah ini pertama kali dipopulerkan melalui riset mendalam oleh ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi, yang meraih Nobel Prize in Physiology or Medicine atas temuannya.
Secara sederhana, autophagy adalah proses ketika sel mendaur ulang bagian yang rusak untuk dijadikan energi baru. Ibarat sistem kebersihan otomatis, sel akan “makan” komponen yang sudah tidak berfungsi agar tetap efisien dan sehat.
Lalu, apa hubungannya dengan terapi energi?
Dalam praktik terapi energi, dikenal konsep bahwa tubuh memiliki kecerdasan biologis untuk memulihkan diri saat kondisi internalnya seimbang. Secara ilmiah, keseimbangan ini dikenal sebagai homeostasis.
Autophagy sendiri aktif saat tubuh berada dalam kondisi tertentu, seperti:
- Puasa atau defisit kalori
- Relaksasi mendalam
- Olahraga teratur
- Stres seluler ringan yang terkontrol
Menariknya, kondisi relaksasi dalam meditasi atau terapi berbasis sentuhan energi kerap dikaitkan dengan dominasi sistem saraf parasimpatis—fase “rest and repair”. Pada fase inilah proses regeneratif tubuh bekerja lebih optimal.
Dari sisi ilmiah, terapi energi sering dipahami sebagai pendekatan untuk:
- Menurunkan hormon stres (kortisol)
- Mengaktifkan respons relaksasi
- Meningkatkan koherensi gelombang otak
- Menstabilkan denyut jantung dan pernapasan
Ketika stres kronis menurun, inflamasi sistemik juga dapat berkurang. Beberapa studi menunjukkan stres oksidatif yang rendah dapat membantu menjaga fungsi sel, termasuk mekanisme pembersihan seperti autophagy.
Artinya, meski istilah “energi” dalam terapi alternatif tidak selalu identik dengan terminologi biokimia, ada irisan dalam hal regulasi sistem saraf dan respons adaptif sel.
Titik temu antara autophagy dan terapi energi berada pada:
Regulasi stres → Aktivasi relaksasi → Keseimbangan hormonal → Optimalisasi fungsi sel
Dengan kata lain, terapi energi dapat diposisikan sebagai pendekatan pendukung dalam menciptakan kondisi fisiologis yang kondusif bagi proses penyembuhan alami tubuh.
Autophagy membuktikan bahwa tubuh memiliki sistem “daur ulang” internal yang canggih. Sementara terapi energi berfokus pada menciptakan keseimbangan agar sistem tersebut bekerja optimal.
Padaakhirnya, tubuh bukan hanya mesin biokimia—ia juga sistem adaptif yang responsif terhadap stres, emosi, dan keseimbangan internal.
