24 Feb 2026, Sel

Momentum Hari Disabilitas Internasional: Master Zaenal Tekankan Pentingnya Parenting dan Terapi Air untuk Anak Speech Delay dan Tantrum

Mojokerto, 3 Desember 2025 —
Memperingati Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada 3 Desember, banyak pandangan, harapan, dan inovasi dalam dunia parenting serta pendidikan khusus kembali mencuat ke permukaan. Salah satu suara yang menguat tahun ini datang dari praktisi hipnoterapi dan terapi energi, Master Zaenal, yang turut memberikan edukasi kepada orang tua tentang pendekatan alami dan logis dalam mendampingi anak dengan kebutuhan khusus, khususnya yang mengalami tantrum dan speech delay.

Menurutnya, peran orang tua bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga menjadi fasilitator emosional dan regulasi saraf. Hal ini penting karena banyak anak dengan hambatan perkembangan mengalami stimulasi berlebih di otak, sehingga mudah marah, sensitif, hingga sulit berkomunikasi.

“Anak tantrum bukan nakal, dan anak speech delay bukan ‘diam karena malas bicara’. Otak mereka sering kali berada dalam kondisi stres atau ketidakseimbangan biologis. Orang tua perlu pendekatan yang lembut, sabar, dan sistematis,” ujar Master Zaenal dalam sesi edukasi publik.

Salah satu metode sederhana yang diperkenalkan adalah terapi air minum dengan pH netral, yang menurutnya berkontribusi membantu stabilisasi tubuh, hidrasi optimal, serta mendukung sistem saraf.

Ia menjelaskan bahwa air dengan pH netral lebih mudah diserap tubuh sehingga membantu memperbaiki sistem metabolisme, termasuk sistem saraf pusat yang memengaruhi perilaku, fokus, serta kemampuan berkomunikasi pada anak.

Terapi ini bukan pengganti terapi medis atau fisik, namun dapat menjadi Terapi komplementer yang aman, sederhana, dan mudah diterapkan di rumah.

Selain terapi air, Master Zaenal juga menekankan pentingnya:

  • Komunikasi lembut dan eye contact
  • Rutinitas harian yang stabil
  • Lingkungan emosional yang aman

Momentum Hari Disabilitas Internasional

Hari Disabilitas Internasional bukan sekedar seremoni, tetapi pengingat bahwa setiap anak — termasuk mereka dengan autisme, speech delay, ADHD, atau kondisi perkembangan lainnya — memiliki potensi untuk berkembang apabila mendapatkan dukungan yang tepat.

“Mereka bukan kurang. Mereka hanya berbeda, dan tugas kita adalah memahami, bukan menghakimi,” tutup Master Zaenal.

Dengan semakin banyak pendekatan humanis seperti ini, harapannya masyarakat ke depan semakin inklusif, sadar, dan siap menjadi pendamping terbaik bagi generasi yang memiliki jalur tumbuh berbeda namun tetap berharga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *